kawanhawa
Beranda Inspirasi
Women Empowerment

Tak Mau Lepas Hijab, Kadet Putri Kedokteran Unhan Pilih Mundur untuk Mempertahankan Prinsip

Oleh Kawanhawa Admin • 01 September 2026
Tak Mau Lepas Hijab, Kadet Putri Kedokteran Unhan Pilih Mundur untuk Mempertahankan Prinsip
Tak Mau Lepas Hijab, Kadet Putri Kedokteran Unhan Memilih Mundur

Kisah Asma Wafa Andina, calon kadet putri Program S-1 Kedokteran Universitas Pertahanan (Unhan) RI, menjadi sorotan setelah dirinya memilih mengundurkan diri meski telah dinyatakan lulus seleksi tingkat pusat.

Keputusan tersebut diambil setelah Wafa mendapat informasi bahwa mahasiswi berhijab diwajibkan melepas hijab selama menjalani pendidikan di lingkungan Unhan.
Bagi Wafa, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai pakaian. Ia kemudian memilih mempertahankan prinsip yang diyakininya, meskipun keputusan itu berarti harus melepaskan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu institusi yang telah ia perjuangkan.

Lulus Seleksi, tetapi Menghadapi Pilihan Sulit
Wafa sebelumnya mengikuti rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unhan Tahun Akademik 2026/2027 untuk Program S-1 Kedokteran.
Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, ia dinyatakan lulus seleksi tingkat pusat. Namun, menjelang proses pendidikan, Wafa mengaku memperoleh informasi mengenai ketentuan bagi kadet perempuan yang mengenakan hijab.
Ia kemudian memastikan kembali informasi tersebut sebelum menandatangani kontrak pendidikan.

Menurut keterangannya, selama proses seleksi, peserta perempuan yang mengenakan hijab masih mendapatkan fasilitas untuk menggunakan hijab sesuai ketentuan pakaian yang berlaku. Hal tersebut membuat Wafa mempertanyakan dasar kebijakan yang kemudian disampaikan kepadanya.

Wafa juga menyebut tidak menemukan aturan tertulis yang secara spesifik mencantumkan kewajiban melepas hijab dalam dokumen perjanjian yang ia terima. Berdasarkan keterangannya, kebijakan tersebut disebut sebagai arahan pimpinan yang telah diterapkan sejak angkatan pertama.

Memilih Mundur demi Mempertahankan Prinsip
Setelah mengetahui adanya ketentuan tersebut, Wafa dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: melanjutkan pendidikan dengan melepas hijab atau mengundurkan diri.
Ia kemudian memilih untuk mundur.

Keputusan tersebut menjadi sorotan karena Wafa tidak mengundurkan diri akibat gagal dalam proses seleksi. Sebaliknya, ia telah berhasil melewati tahapan seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan kedokteran di Unhan.

Kisah tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memunculkan perdebatan publik mengenai penggunaan hijab bagi kadet perempuan di lingkungan pendidikan militer.
Sejumlah pihak mempertanyakan transparansi serta dasar tertulis dari kebijakan tersebut, terutama karena persoalan penggunaan hijab berkaitan dengan kebebasan menjalankan keyakinan sekaligus hak seseorang dalam memperoleh pendidikan.

Polemik Aturan Hijab di Unhan
Kementerian Pertahanan kemudian memberikan klarifikasi terkait polemik tersebut. Kemhan menyatakan bahwa dalam Peraturan Rektor Unhan RI Nomor 28 Tahun 2025 tentang Pedoman Kehidupan Kadet Universitas Pertahanan tidak terdapat ketentuan yang secara spesifik melarang penggunaan hijab bagi kadet perempuan. 

Perkembangan berikutnya, Unhan menerbitkan Surat Edaran Nomor SE/201/VIII/2026 pada 24 Agustus 2026 yang mengatur penggunaan hijab bagi kadet mahasiswa S1 dan D3 muslim putri.
Melalui surat edaran tersebut, kadet perempuan muslim diperbolehkan menggunakan hijab dalam seluruh kegiatan pendidikan dan latihan di lingkungan Unhan. Hijab yang digunakan pada seragam pakaian dinas ditetapkan berwarna hitam untuk sementara, sampai desain hijab resmi Unhan ditetapkan. 

Ketentuan tersebut juga mengatur agar hijab digunakan secara rapi serta tidak mengganggu keamanan maupun kegiatan pendidikan dan latihan. 

Dengan demikian, polemik yang bermula dari pengalaman Wafa kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai bagaimana aturan penggunaan hijab bagi kadet perempuan di Unhan seharusnya diterapkan.

Ketika Prinsip Harus Berhadapan dengan Cita-Cita
Kisah Wafa pada akhirnya bukan hanya tentang Universitas Pertahanan, pendidikan kedokteran, atau penggunaan hijab.

Ada satu persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan banyak perempuan: apa yang dilakukan ketika cita-cita yang sudah diperjuangkan ternyata harus berhadapan dengan prinsip yang tidak ingin ditinggalkan?

Pendidikan, karier, dan cita-cita tentu memiliki arti penting. Namun, setiap perempuan juga memiliki nilai dan prinsip yang menjadi bagian dari cara ia menjalani kehidupannya.
Dalam kasus Wafa, keputusan untuk mundur tentu bukan keputusan yang ringan. Ada proses panjang yang telah dilewati, kesempatan yang telah diperoleh, serta masa depan yang mungkin sudah dibayangkan.

Namun, ia memilih untuk tidak melepaskan sesuatu yang diyakininya penting.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk keputusan untuk terus maju. Dalam keadaan tertentu, berani mundur dari sesuatu yang sangat diinginkan juga dapat menjadi bentuk keberanian ketika pilihan tersebut diambil untuk mempertahankan prinsip.

Setiap Perempuan Berhak Memiliki Prinsip
Perjalanan Wafa menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki mimpi besar sekaligus memiliki prinsip yang ingin dipertahankan.

Menjadi perempuan berpendidikan bukan berarti harus kehilangan nilai yang diyakini. Begitu pula mempertahankan prinsip tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki ambisi atau cita-cita.
Keduanya dapat berjalan beriringan.

Karena pada akhirnya, pendidikan dan karier memang penting. Tetapi bagi seorang muslimah, menjaga nilai agama yang diyakininya juga dapat menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.
Kisah Wafa mungkin tidak memberikan jawaban sederhana mengenai mana yang harus dipilih oleh setiap perempuan. Sebab, setiap orang memiliki keadaan, pertimbangan, dan konsekuensi yang berbeda.

Namun, setidaknya kisah ini mengajak kita untuk melihat bahwa di balik sebuah keputusan terdapat prinsip, perjuangan, dan keberanian yang tidak selalu terlihat dari luar.

Bukan tentang siapa yang paling benar atau paling salah, tetapi tentang keberanian seseorang untuk mempertanggungjawabkan pilihan yang ia yakini.
Facebook X (Twitter) WhatsApp

Tags

#Asma Wafa Andina #Universitas Pertahanan #UNHAN #HIJAB #Kadet Putri #pendidikan perempuan #muslimah #pendidikan kedokteran militer
kawanhawa
Instagram

© 2026 KAWANHAWA. All rights reserved.